Hukum Berkurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal
Hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal

Hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal berikut ini penjelasannya. Dikutip dari islam.nu.or.id, hukum berqurban merupakan Sunnah muakad. Tapi khusus untuk Rasulullah saw hukumnya ialah harus . Maka bila dalam keluarga telah ada seseorang yang menjalankannya karena itu luruhlah kesunahan lainnya, tapi bila cuman seseorang karena itu hukumnya ialah Sunnah ‘ain. Kesunnahan berqurban ini diperuntukkan ke muslim yang merdeka, baligh, berpikiran dan sanggup.

Hukum berkurban ialah sunnah muakkad. Dalam pada itu, berkurban untuk orang yang telah wafat dibolehkan yang dipisah jadi tiga jenis, yakni:

Pertama, orang yang hidup menyertakan pahala berkurban untuk orang yang telah wafat.

Tujuannya, seseorang yang menyembelih kurban untuk dianya dan pakar baitnya, baik yang hidup atau yang sudah meninggal dunia.

“Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad.” (HR. Muslim)

Ke-2 , menyembelih kurban yang karena bimbingan warisan yang dikatakan saat sebelum seorang wafat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 181 yang maknanya:

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Bila orang yang sudah wafat itu tinggalkan satu warisan, karena itu orang yang terima warisan itu harus melakukannya dan semua dagingnya harus disedekahkan ke fakir miskin.

Ke-3 , berkurban untuk orang yang telah wafat sebagai sedekah terpisah dari yang hidup karena itu ini dibolehkan.

Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi dalam kitab Minhaj ath-Thalibin dengan tegas mengatakan tidak ada kurban untuk orang yang sudah wafat terkecuali saat hidupnya pernah berwasiat.

“Tidak syah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Minhaj ath-Thalibin, Beirut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1425 H/2005 M, h. 321).

Minimal argumentasi yang bisa disampaikan untuk menyokong opini ini ialah jika kurban sebagai beribadah yang memerlukan niat.

Oleh karenanya, niat orang yang berkurban mutlak dibutuhkan. Tetapi, ada penglihatan yang lain mengatakan kemampuan berkurban untuk orang yang sudah wafat seperti disampaikan oleh Abu al-Hasan al-Abbadi.

Argumen penglihatan ini ialah jika berkurban terhitung sedekah, sementara bersedekah untuk orang yang sudah wafat ialah syah dan dapat memberi kebaikan padanya, dan pahalanya dapat sampai padanya seperti yang sudah disetujui oleh beberapa ulama.

“Seandainya seorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya, maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama” (Lihat Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut-Dar al-Fikr, tt, juz, 8, h. 406).

Saat akan berkurban, diharuskan mengeja niat di saat menyembelih atau menta’yin (tentukan hewan) saat sebelum disembelih.

Niat disampaikan dalam hati, tidak harus disampaikan secara lisan terkecuali di saat akan lakukan pemotongan yang perlu disertai dengan ucapkan Bismillah dan Allahu Akbar.

Beberapa opini ulama berkenaan hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal, yakni:

Opini pertama, datang dari mazhab Syafi’i. Beberapa ulama mazhab Syafi’i memiliki pendapat jika tidak ada ketetapan qurban untuk orang yang telah wafat, terkecuali jika dia berwasiat ingin berqurban . Maka, qurban untuk orang yang telah wafat dibolehkan, cuman bila shohibul qurban yang tidak hidup itu pernah mewasatkan. Secara rasional, orang yang telah wafat memanglah tidak dapat berqurban, karena itu wajarnya qurban ini dilaksanakan oleh keluarganya.

Sementara bila tanpa warisan dari orang yang wafat karena itu qurban itu tidak syah. Karena tidak syahnya qurban untuk orang yang wafat diterangkan Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi, ulama dari mazhab syafi’I, dalam kitan Minhaj Ath-Thalibin. Pemicunya ialah berqurban menyaratkan ada niat beribadah. Orang yang telah wafat tidak dapat kembali punya niat beribadah untuk dirinya hingga tidak syah berkurban untuk orang yang telah wafat, terkecuali bila dia berwasiat atas hal itu.

“Tidak sah berqurban untuk orang lain [yang masih hidup] tanpa seizinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk diqurbani,” (hlm.321)

Opini ke-2 , tiba dari beberapa ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbalu yang mengatakan jika berqurban untuk orang yang telah wafat syah hukumnya karena ditujukan sebagai sedekah. Bila qurban untuk orang yang telah mati dipandang sedekah, karena itu bersedekah untuk orang yang telah wafat hukumnya hukumnya syah dan pahalanya dapat sampai ke yang diqurbani.

Opini ini mengarah pada kisah berkenaan qurban yang dilaksanaka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu: “Bahwasanya Ali Radhiallahu Anhu pernah berqurban atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menyembelih dua ekor kaming kibasy. Dan beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallammenyuruhnya melakukan demikan,” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*