Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah

Wali songo yang terkenal aktif berdakwah melalui saluran kesenian adalah Antara lain sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga. Beliau bertiga berdakwah lewat pintu budaya, agar mempermudah penduduk Nusantara dalam konteks saat itu untuk menerima Agama Islam. Berkat kiprah beliau-beliau dalam relatif singkat masyarakat jawa bisa menjadi pemeluk agama islam secara mayoritas.

Berikut Ini kami sajikan bagaimana kiprah para ketiga sunan di atas bagaimana berdakwah lewat budaya :

1. Sunan Kalijaga

Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Kalijaga
Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga menjadi satu diantara Wali Songo yang mengajari agama Islam lewat kesenian. Tipe seni yang terkenal dipakai oleh Sunan Kalijaga ialah wayang.

Sunan Kalijaga lahir di tahun 1450 Masehi di Tuban. Beliau meninggal dunia di Kadilangu, Demak di tahun 1513 Masehi.

Ayahnya seorang bangsawan namanya Raden Ahmad Sahuri yang disebut Adipati Tuban VIII. Dan ibunya ialah puteri dari Raden Kidang Telangkas yaitu Dewi Nawangarum.

Beliau benar-benar berperanan penting dalam penebaran agama Islam, tidak cuman di teritori Jawa tengah, tetapi juga Jawa Barat. Ini diperkokoh dengan kesertaannya dalam pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.

Nama Asli Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Pangeran Santi Kusumo. Sehubungan beliau ialah anak adipati Tuban, karena itu namanya juga mempunyai gelar sebagai Raden Mas Syahid.

Penyematan nama Sunan Kalijaga ini ada argumennya . Maka di saat beliau jadi siswa Sunan Bonang, Sunan Bonang coba menguji kegigihannya. Triknya dengan memerintah Sunan Kalijaga untuk jaga tongkat Sunan Bonang yang menyengaja ditancapkan di tepi kali.

Sunan Kalijaga juga jaga tongkat itu sepanjang beberapa hari tanpa tinggalkan tempatnya sampai Sunan Bonang tiba kembali ambil tongkatnya. Dari sini Sunan Bonang menamai Sunan Kalijaga karena sudah jaga tongkat yang ditancapkan di tepi kali.

Ada pula yang menjelaskan jika nama Sunan Kalijaga ini didapatkan karena di awal mula periode berdakwahnya, beliau pilih lokasi di Dusun Kalijaga dengan masyoritas warganya yang disebut orang Indramayu dan Pamanukan.

Sehubungan tempat berdakwah pertama kalinya ini ialah Dusun Kalijaga, karena itu nama Kalijaga juga dipasangkan ke beliau.

Selainnya panggilan sebagai Sunan Kalijaga, beliau memiliki banyak nama karena mengusai dalam mendalang. Beberapa panggilan yang didapatkan ialah Ki Dalang Sida Brangti, Ki Dalang Bengkok, Ki Dalang Kumendung, dan Ki Unehan.

Tetapi ada satu nama yang hendak mengingati Sunan Kalijaga akan riwayat gelap hidupnya, yaitu nama Lokajaya. Sunan Kalijaga memperoleh nama itu karena dahulunya beliau ini suka mencuri dan membunuh orang.

Awalannya Seorang Berandalan yang Bertobat

Di periode mudanya, Sunan Kalijaga merupakan seorang berandalan yang paling sukai lakukan kejahatan seperti mencuri sampai membunuh orang.

Sikap yang dipunyainya ini sebetulnya ada argumennya. Di saat itu, beliau berasa tidak terima dengan pemerintah yang berada di Tuban. Beberapa rakyat jelata kelaparan karena alami kemarau panjang, tetapi pemerintahan Tuban malah menarik pajak dan upeti pada mereka.

Oleh karenanya, sebagai wujud protes, karena itu Sunan Kalijaga memilih untuk mencuri harta beberapa bangsawan dan petinggi. Harta rampasan itu tidak semerta-merta dicicipi oleh Sunan Kalijaga, tapi beliau akan membagikan ke rakyat jelata.

Pernah Merampas Sunan Bonang

Sikap tidak terpujinya ini juga stop sesudah beliau berjumpa Sunan Bonang. Tatap muka ke-2 nya ini dapat disebutkan sebagai tatap muka yang tidak membahagiakan karena saat itu Sunan Kalijaga punya niat untuk merampas Sunan Bonang yang melalui di wilayah Tuban.

Sesudah Sunan Kalijaga menceritakan berkenaan argumennya mencuri, Sunan Bonang malah membentaknya dan melarang untuk lakukan hal itu kembali. Sunan Bonang pahami tujuan dari niat Sunan Kalijaga, tetapi memberi sedekah ke orang dengan mencuri seseorang sama dengan bersihkan baju sama air kencing.

Sesudah berjumpa dengan Sunan Bonang itu, Sunan Kalijaga lalu bertobat dan janji tidak mengulang tindakannya kembali. Beliau juga jadi siswa dari Sunan Bonan.

Berdakwah dengan Menggunakan

Sunan Kalijaga benar-benar dikenali oleh warga sebagai pendalang yang andal. Beliau dapat mendalang dengan baik sekali. Saat beliau mendalang itu, disisipkanlah beberapa unsur dan tuntunan Islami.

Jadi otomatis, warga mulai akan ketahui mengenai tuntunan Islam lewat atraksi wayang yang diadakan oleh Sunan Kalijaga.

Warga Jawa yang pada periode itu benar-benar menyenangi wayang pada akhirnya mulai bersama-sama untuk tiba melihat atraksi wayang dari Sunan Kalijaga.

Jumlahnya pemirsa yang tiba untuk melihat atraksi wayang Sunan Kalijaga tidak karena hanya beliau mengusai dalam mendalang, tapi juga karena ticket masuknya ini gratis alias tidak diambil ongkos sepeser juga.

Ini membuat semua kelompok masyarakat, khususnya kelompok bawah juga dapat nikmati atraksi wayang sebagai selingan tanpa perlu bayar.

Tetapi ada persyaratan yang diterapkan oleh Sunan Kalijaga untuk beberapa orang yang ingin melihat atraksi wayangnya, yaitu ucapkan dua kalimat syahadat sebagai ticket masuk.

Atraksi Wayang Sunan Kalijaga Memadankan Dokumen Kuno dengan Tuntunan Islam

Pasti tidak gampang untuk warga Jawa yang di saat itu berpedoman animisme untuk terima tuntunan Islam.

Oleh karenanya, agar warga Jawa dapat terima secara perlahan-lahan agama Islam, Sunan Kalijaga juga memadankan dokumen kuno dengan tuntunan Islam dalam atraksi wayangnya.

Dokumen kuno yang dipentaskan seperti lakon Dewa Ruci, Layang Kalimasada, Lakon Petruk jadi Raja, dan lain-lain. Kelak didalamnya akan disisipkan tuntunan-ajaran kebaikan dari Islam.

Disamping itu, Sunan Kalijaga menambah watak-karakter baru yang sampai sekarang ini masih terkenal seperti Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng.

Sunan Kalijaga Menggunakan Kesenian Lain dalam Berdakwah

Rupanya bukan hanya menggunakan wayang dalam berdakwah, tetapi Sunan Kalijaga menggunakan tipe kesenian yang lain seperti tembang. Beberapa tembang terkenal yang sering dinyanyikan oleh warga Jawa ialah ilir-ilir.

Dalam lagu ilir-ilir tersuratkan arti jika kita diharap dapat bangkit dari duka cita, berusaha untuk memperoleh kebahagiaan, kumpulkan ibadah kebaikan sebanyak-banyaknya, dan lain-lain.

Selainnya membuat tembang, Sunan Kalijaga bekerja bersama dengan seniman saat membuat kedok, baju untuk pertunjukan kesenian, dan lain-lain.

Langkah berdakwahnya yang menggunakan kesenian ini dikuasai dari tuntunan Sunan Bonang yang sama menggunakan seni dalam berdakwah.

Itu sepintas narasi riwayat mengenai Sunan Kalijaga yang penting Mam kenali. Menurut Mam, apa langkah berdakwah seperti Sunan Kalijaga bisa kita temui sekarang ini?.

2. Sunan Giri

Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Giri
Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Giri

Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Giri sebagai putra dari Syekh Maulana Ishaq. Ibunya namanya Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu yang tidak lain ialah Raja Blambangan.

Sunan Giri dikenal juga bernama Raden Paku, Muhammad Ainul Yaqin, Joko Samudro, dan Sultan Abdul Faqih. Ada riwayat tertentu untuk tiap nama yang dipunyainya. Satu diantaranya asal mula Joko Samudro.

Diceritakan di saat masih bayi Sunan Giri pernah merasakan periode pembuangan oleh kakeknya, Prabu Menak Sembuyu. Seperti diambil dari Buku Riwayat Kebudayaan Islam, Prabu Menak Sembuyu berasa iri atas kesuksesan menantunya (Syekh Maulana Ishaq) dalam menebar agama Islam di Blambangan.

Di saat itu Sunan Giri masih ada dalam kandungan. Sesudah lahir, Prabu Menak Sembuyu melepaskan kecemburuannya ke cucunya sendiri. Dia masukkan Sunan Giri ke peti lalu membuangnya ke laut.

Saat ada di laut, Sunan Giri diketemukan dengan seorang saudagar kaya yang sedang melaut, Nyai Ageng Pinatih namanya. Selanjutnya dia jadi anak tiri. Karena bayinya diketemukan di laut pada akhirnya dia dinamakan Joko Samudro oleh Nyai Ageng Pinatih.

Pada umur 11 tahun, Sunan Giri diantar oleh ibu angkatnya ke sebuah pesantren untuk berguru ke Sunan Ampel di Ampeldenta, Surabaya. Di sanalah dia memperoleh banyak pengetahuan dari gurunya.

Dikisahkan dalam buku yang serupa, Sunan Giri sempat disuruh melanjutkan usaha ibu angkatnya untuk berdagang. Tetapi, dia lebih memutuskan untuk menebarkan agama Islam dan membangun ponpes.

Sunan Giri dikenali dengan style ceramah pesantren. Dia banyak mengajarkan santri-santrinya melalui permainan anak-anak. Permainan yang ia bikin dan masih populer sampai sekarang ini diantaranya Jelungan dan Cublak-cublak Suweng.

Melalui dua permainan ini Sunan Giri memberi pengetahuan mengenai agama Islam sebagai dasar saat menjalankan hidup. Permainan ini disertai dengan menyanyi. Hingga banyak anak-anak sukai dengan sistem ceramah yang sudah dilakukan Sunan Giri.

Selainnya permainan anak, Sunan Giri membuat tembang sebagai media pengutaraan tuntunan Islam. Beberapa karyanya ialah tembang Cintadhana dan Pucung.

Itu cerita Sunan Giri dalam siarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Giri meninggal dunia di tahun 1506 Masehi dan disemayamkan di Desa Kedhaton, Dusun Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

3. Sunan Bonang

Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Bonang
Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Bonang

Dakwah Islam di Pulau Jawa bukan hanya lewat pengajian atau pesantren, tetapi juga kesenian. Satu dari Wali Songo Yang Terkenal Aktif Berdakwah Melalui Saluran Kesenian Adalah Sunan Bonang.

Sunan Bonang mempunyai nama asli Syekh Maulana Makhdum Ibrahim putra ke-4 dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Kakek dari Sunan Bonang, Syekh Ibrahim Asmaraqandi ialah ulama terkemuka turunan Turki Persia.

Beberapa riwayat memberikan, Sunan Bonang mempunyai darah turunan Nabi Muhammad lewat lajur Husain bin Ali bin Abi Thalib, menantu nabi. Sementara ibunya namanya Dewi Candrawati atau disebutkan Nyai Ageng Manila, putri dari Arya Teja, seorang Adipati Tuban saat Kerajaan Majapahit berdiri.

Sunan Bonang lahir di tahun 1448 M di Tuban, dan memiliki 8 saudara, satu diantaranya Raden Qasim yang bertitel Sunan Drajat. Periode muda Sunan Bonang banyak dihabiskan untuk mengangsu pengetahuan dari ayahnya, Sunan Ampel.

Dianya sempat juga mengangsu pengetahuan dengan Syekh Maulana Ishak, dari kerajaan Samudera Pasai, Aceh. Sunan Bonang populer sebagai penebar Islam yang kuasai pengetahuan fikih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan pengetahuan kesaktian.

Selainnya populer dengan kecerdasaannya, Sunan Bonang pakar dalam pengetahuan bela diri. Kekuatan berikut yang nanti bermanfaat menaklukkan pencuri namanya Raden Said.

Raden Said selanjutnya memutuskan untuk bertobat dan jadi siswa Sunan Bonang. Nantinya selanjutnya menebarkan ceramah Islam dan populer bernama Sunan Kalijaga.

Jalan Ceramah Sunan Bonang

Sekembalinya dari perjalanan cari pengetahuan, Sunan Ampel memerintah Sunan Bonang untuk lakukan ceramah di wilayah Tuban, Pati, Madura bahkan juga sampai Pulau Bawean. Selanjutnya Dia membangun mushalla atau musala di pinggir Sungai Brantas, persisnya di Dusun Singkal.

Dengan bekal keilmuan Sunan Bonang yang cukup oke dan kepandainnya dalam melantunkan ayat suci Alquran, pada periode pemerintah Sultan Abdul Fattah, Sunan Bonang sempat juga diangkat sebagai Imam Masjid agung Demak.

Dianya berperanan penting pada proses pendirian Masjid khusus Kesultanan Islam pertama di Jawa itu, yakni dengan menyumbang salah satunya sakaguru sebagai penunjang khusus bangunan.

Mencuplik buku Atlas Wali Songo, kreasi K.H Agus Sunyoto, saat di Demak, saat masih memegang sebagai Imam, beliau tinggal di Dusun Bonang yang terletak tidak jauh dari kota praja. Perihal ini pula yang memicu Raden Makdum Ibrahim selanjutnya diundang dengan panggilan Sunan Bonang yang memiliki makna guru suci yang berkedudukan di Bonang.

Sesaat memegang Imam Mushola Agung Demak, Dia selanjutnya tinggal di wilayah Lasem yang masuk daerah Rembang. Di Lasem, Dia membuat sebuah mushola di tengah-tengah rimba.

Mushola yang ada di Dusun Bonang, Kecamatan Lasem ini salah satunya bukti autentik warisan dari perjalanan ceramah yang sudah dilakukan oleh Sunan Bonang didaerah Rembang dan sekelilingnya. Lokasi mushola ini sekitaran 50 mtr. di samping utara dari pusara Sunan Bonang yang sekarang ini.

Saat itu Sunan Bonang terhitung orang yang dituakan, hingga rakyat benar-benar runduk dan menghargai akan personalitas Kanjeng Sunan Bonang. Peluang yang bagus itu beliau pakai untuk bertabligh dan mengajari mengenai tujuan agama Islam.

Sejak saat itu beberapa santri-santri banyak yang datang, baik mereka yang dari Jawa tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan mengangsu pengetahuan dari Sunan Bonang.

Berdakwah lewat kesenian

Sunan Bonang sukses lakukan asimilasi kebudayaan di antara agama Islam dan kebudayaan Jawa. Dia memberi warna lokal dalam acara keagamaan seperti Idulfitri, Maulid Nabi, dan Tahun Baru Islam.

Peninggalan budaya ciptaan Sunan Bonang yang masih tetap lestari sampai ini hari ialah Upacara Sekaten dan Grebeg Maulid. Beberapa lakon wayang disamakan dengan aturan Islam, misalkan Layang Kalimasada, Pandu Pragola, Mustakaweni, Petruk Dadi Ratu, dan Semar Mbarang Jantur.

Sunan Bonang membuat musik gamelan jadi orkestra yang meditatif bahkan juga kontemplatif. Dia bahkan juga masukkan instrument baru seperti rebab Arab atau kempul Campa, namanya Bonang.

Bonang sebagai semacam kuningan yang ditonjolkan sisi tengahnya. Jika tonjolan dipukul dengan kayu lunak akan memunculkan suara yang merdu dalam telinga pendengar bahkan juga bisa menggetarkan hati.

Salah satunya kidung legendaris ciptaan Sunan Bonang yang terkenal oleh warga dari jaman ke jaman ialah tembang Tombo Ati. Kidung ini tidak terlepas dari kepenguasaan literatur keIslaman Sunan Bonang yang luas.

Hasil dari pengkajian, Zainal Abidin bin Syamsuddin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo mengaitkan, jika lirik tembang Tombo Ati itu diambil Sunan Bonang dari salah satunya tuntunan ulama besar yang dari Timur tengah pada era ketiga Hijriah namanya Ibrahim bin Ahmad.

Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (2013). tuliskan jika ceramah Sunan Bonang lainnya ialah lewat penulisan kreasi sastra yang bertema Suluk Wujil.

Sekarang ini, dokumen asli Suluk Wujil diletakkan di perpustakaan Kampus Leiden, Belanda. Suluk Wujil dianggap sebagai salah satunya kreasi sastra paling besar di Nusantara karena didalamnya yang cantik dan kandungannya yang kaya dalam menerjemahkan kehidupan beragama.

Sunan Bonang benar-benar konsentrasi saat menjalankan peranannya sebagai ulama dan seniman hingga dia tidak sempat menikah sampai meninggal dunianya pada 1525 M. Dia disemayamkan di dalam rumah tempat tinggal beliau di dusun Bonang Lasem. 1/2 kisah mengatakan jika pusara beliau berada di Tuban, ada juga yang menjelaskan di Madura.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*